Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin mengklarifikasi kabar bahwa pihaknya telah mengeluarkan fatwa mengharamkan layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Din menganggap polemik yang mencuat disebabkan oleh kesalahpahaman dalam mengartikan keputusan Forum Ijtima Ulama MUI. “Terjadi misunderstanding yang menjadi polemik liar. Setelah saya teliti, tidak ada kata ‘haram’ di dalamnya,” kata Din Syamsuddin di Makassar, Sabtu 1 Agustus 2015.
Din memastikan bahwa MUI hanya mengeluarkan rekomendasi yang berisi pandangan ulama terkait dengan layanan BPJS Kesehatan dalam acara Forum Ijtima Ulama MUI di Pondok Pesantren At-Tauhidiyah di Cikura, Tegal, Jawa Tengah, pada 8-10 Juni lalu. Sejauh ini ulama menganggap ada sejumlah hal dalam BPJS yang belum sejalan dengan syariat Islam. Di antaranya adalah mekanisme pencairan yang dianggap menyusahkan masyarakat. “Kami hanya meminta untuk disempurnakan,” ujar dia, mengklarifikasi.
Sebelumnya anggota Komisi Fatwa MUI, Arwani Faisal, menganggap BPJS perlu disempurnakan karena mengandung gharar atau tipuan, maysir atau untung-untungan, dan melahirkan riba. Dia mencontohkan peserta BPJS yang rutin membayar premi. Namun, ketika peserta tidak bisa membayar premi, dia terkena denda. “Ditolak dan tidak mendapat pelayanan. Ini kan unsur gharar,” ujar dia.
Adapun unsur maysir dan riba mirip dengan yang dijumpai pada asuransi konvensional, sistem yang pernah diharamkan oleh MUI. “Baru bayar beberapa kali, tapi mendapat pengobatan yang nilainya berlipat. Ini kan untung-untungan,” ujar Arwani. Alasan itulah yang menyebabkan publik menafsirkan bahwa MUI telah mengeluarkan fatwa haram terhadap layanan BPJS.
Berkebalikan dengan MUI, ulama Nahdlatul Ulama tak mempersoalkan BPJS. Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah, yang telah mengkaji hal ini, menyatakan layanan BPJS tak menyalahi syariat Islam. “Tidak haram. Kami membolehkan,” kata Sekretaris LBM PWNU Jawa Tengah, Nasrullah Huda.
NU Jawa Tengah memandang ada unsur kebaikan dalam sistem BPJS Kesehatan. Misalnya, antarwarga saling membantu. Prinsip gotong-royong ini sangat dianjurkan oleh agama Islam. Ini berbeda dengan praktek asuransi, di mana peserta dan penyelenggara asuransi biasanya ingin mengambil keuntungan.
Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan pemerintah akan mempertemukan pengelola BPJS dengan MUI dalam waktu dekat. Dia meminta agar BPJS menjelaskan mekanisme perlindungan kesehatan bagi pesertanya di depan MUI. Sebaliknya, kata Nila, MUI juga harus memiliki argumen dan fakta yang kuat ihwal alasan BPJS Kesehatan dianggap tak sesuai dengan syariat
Sarana Pembelajaran Geografi
Blog ini dibuat bertujuan untuk memberikan sarana ataupun sumber informasi terhadap para pelajar dalam mendapatkan informasi tentang ilmu geografi terima kasih wassalamumuallaikum Yakin usaha sampai
Senin, 19 Oktober 2015
Minggu, 20 September 2015
Siklus hidrologi
BAB
I
PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
Air merupakan sumber kehidupan.
Seringkali kita menganggap biasa air turun dari langit tanpa memikirkan proses
terjadinya ataupun apa manfaat yang didapat dari air tersebut.
Air itu sendiri adalah substansi
pokok yang terlibat pada siklus hujan. Siklus hujan merupakan sebuah daur
proses terjadinya hujan. Yang mana dapat dilihat ketika air berproses di udara
atau atmosfer Bumi dan saat berada di daratan/Bumi.
Di dalam ilmu Sains, terdapat
kekhususan mengenai hujan, dimana kekhususan tersebut belum dijelaskan secara
detail pada Al-qur’an terutama surat Ar-Ruum : 48 yang mana ayat ini
menjelaskan tentang tahapan-tahapan turunnya hujan.
Pada QS. Ar-Ruum : 48 ini,
dikhususkan mengenai proses terjadinya hujan saja yang akan dikelompokkan
menjadi beberapa tahapan. Kemudian dibandingkan dengan Sains sebagai ilmu
pengetahuan alam ini.
- TUJUAN
Pada makalah kali ini, kita akan
mengulas bahasan siklus hujan masing-masing dari sudut pandang Sains maupun
Al-Qur’an khususnya QS. Ar-Ruum : 48. Setelah itu jita akan mengetahui ranah
integrasi dan interkoneksi Maupun model yang dipakai dalam menghubungkan siklus
hujam dari sudut pandang Sains maupun Al-Qur’an khususnya QS. Ar-Ruum : 48.
- MANFAAT
Dengan makalah ini, diharapkan akan
menambah keimanan kita kepada Allah SWT sekaligus Al-Qur’an. Al-Qur’an
memanglah pedoman manusia sepanjang masa. Salah satu kesempurnaannya dibuktikan
adanya keajaiban-keajaiban Sains yang salah satunya adalah “siklus hujan” itu
sendiri.
- RUMUSAN MASALAH
Sebagai acuhan untuk menarik
kesimpulan, dibuat rumusan masalah sebagai berikut :
- Bagaimana siklus hujan dari segi sains?
- Bagaimana siklus hujan dari segi Al-Qur’an, khususnya pada QS. Ar-Ruum : 48?
- Bagaimanakah hubungan kedua sudut pandang mengenai siklus hujan?
Pengertian Hujan
Hujan adalah sebuah presipitasi berwujud cairan, berbeda dengan presipitasi non-cair seperti salju, batu es dan slit. Hujan memerlukan keberadaan lapisan atmosfer tebal agar dapat menemui suhu di atas titik leleh es di dekat dan di atas permukaan Bumi. Di Bumi, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi butir air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Dua proses yang mungkin terjadi bersamaan dapat mendorong udara semakin jenuh menjelang hujan, yaitu pendinginan udara atau penambahan uap air ke udara. Virga adalah presipitasi yang jatuh ke Bumi namun menguap sebelum mencapai daratan; inilah satu cara penjenuhan udara. Presipitasi terbentuk melalui tabrakan antara butir air atau kristal es dengan awan. Butir hujan memiliki ukuran yang beragam mulai dari pepat, mirip panekuk (butir besar), hingga bola kecil (butir kecil).
Kelembapan yang bergerak di sepanjang zona perbedaan suhu dan kelembapan tiga dimensi yang disebut front cuaca adalah metode utama dalam pembuatan hujan. Jika pada saat itu ada kelembapan dan gerakan ke atas yang cukup, hujan akan jatuh dari awan konvektif (awan dengan gerakan kuat ke atas) seperti kumulonimbus (badai petir) yang dapat terkumpul menjadi ikatan hujan sempit. Di kawasan pegunungan, hujan deras bisa terjadi jika aliran atas lembah meningkat di sisi atas angin permukaan pada ketinggian yang memaksa udara lembap mengembun dan jatuh sebagai hujan di sepanjang sisi pegunungan. Di sisi bawah angin pegunungan, iklim gurun dapat terjadi karena udara kering yang diakibatkan aliran bawah lembah yang mengakibatkan pemanasan dan pengeringan massa udara. Pergerakan truf monsun, atau zona konvergensi intertropis, membawa musim hujan ke iklim sabana. Hujan adalah sumber utama air tawar di sebagian besar daerah di dunia, menyediakan kondisi cocok untuk keragaman ekosistem, juga air untuk pembangkit listrik hidroelektrik dan irigasi ladang. Curah hujan dihitung menggunakan pengukur hujan. Jumlah curah hujan dihitung secara aktif oleh radar cuaca dan secara pasif oleh satelit cuaca.
Dampak pulau panas perkotaan mendorong peningkatan curah hujan dalam jumlah dan intensitasnya di bawah angin perkotaan. Pemanasan global juga mengakibatkan perubahan pola hujan di seluruh dunia, termasuk suasana hujan di timur Amerika Utara dan suasana kering di wilayah tropis. Hujan adalah komponen utama dalam siklus air dan penyedia utama air tawar di planet ini. Curah hujan rata-rata tahunan global adalah 990 millimetre (39 in). Sistem pengelompokan iklim seperti sistem pengelompokan iklim Köppen menggunakan curah hujan rata-rata tahunan untuk membantu membedakan kawasan-kawasan iklim. Antarktika adalah benua terkering di Bumi. Di daerah lain, hujan juga pernah turun dengan kandungan metana, besi, neon, dan asam sulfur.
2.1 Proses terbentuknya hujan
Proses terbentuknya
hujan berawal dari penguapan yang terjadi di bumi akibat panas matahari,
sehingga uap air ini selanjutnya terkumpul di udara lalu mengalami pemadatan
(kondensasi). Hasil kondensasi ini yang di sebut awan, dan awan ini bergerak
akibat hembusan angin dan membuat awan saling bertindih dan terus keatas hingga
mencapai atmosfir yang suhunya lebih dingin, sehingga membentuk butiran-butiran
air/es yang semakin berat dan pada akhirnya mengalami presipitasi yang disebut
jatuhnya air ke bumi dan terjadi hujan.
Selain proses terjadinya hujan
secara alami, ada juga proses terjadinya hujan buatan. Hujan buatan ini
biasanya dibuat untuk daerah yang kadar hujannya sedikit dengan cara menabur
garam pada awan yang memiliki kandungan air yang cukup dan memiliki kecepatan
angin rendah yaitu sekitar di bawah 20 knot. Selain memakan biaya yang besar,
proses pembentukan hujan buatan juga bisa mengalami kegagalan. Jadi mendingan
hujan alami saja ya walaupun musim hujannya sudah tidak jelas, mungkin karena
pemanasan global atau yang lainnya.
Sejarah Hujan buatan di dunia
dimulai pada tahun 1946 oleh penemunya Vincent Schaefer dan Irving
Langmuir, dilanjutkan setahun kemudian 1947 oleh Bernard Vonnegut.
Yang sebenarnya dilakukan oleh
manusia adalah menciptakan peluang hujan dan “mempercepat” terjadinya hujan.
Nama yang digunakan sebagai upaya “membuat hujan” adalah menjadi Teknologi
Modifikasi Cuaca (TMC)

BAB
II
SIKLUS
HUJAN DI PANDANG DARI SAINS
Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi. Air berevaporasi,
kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan
es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut. Air hujan berasal dari air dari
bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air sawah, air
comberan, dll.
Ada tiga tahapan air hujan sampai ke
tanah (bumi), yaitu :
1) Air
pada umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan
panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya
terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di
langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi
sehingga membentuk awan.
2)
Dengan bantuan angin, awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik
vertikal, horizontal dan diagonal. Akibat angin atau udara yang bergerak pula
awan-awan saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfer bumi yang
suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air.
3)
Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau
es tersebut jatuh ke permukaan bumi (proses presipitasi). Karena suhu udara
semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun
jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.
Pada perjalanan menuju bumi beberapa
presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang
kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah. Menurut Jimmy Wales
(http://id.wikipedia.org/wiki/Siklusair.jimmywales) setelah mencapai tanah, air hujan terus bergerak secara
kontinu dalam tiga cara yang berbeda:
Evaporasi / transpirasi – Air yang
ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke
angkasa atmosfer dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air
(awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun
(precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es.
Infiltrasi / Perkolasi ke dalam
tanah – Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan
batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air
dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga
air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan.
Air Permukaan – Air bergerak diatas
permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau, makin landai lahan dan
makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Aliran
permukaan tanah dapat dilihat biasanya pada daerah urban. Sungai-sungai
bergabung satu sama lain dan membentuk sungai utama yang membawa seluruh air
permukaan disekitar daerah aliran sungai menuju laut.
Air permukaan, baik yang mengalir
maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan
akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses
perjalanan air di daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hujan yang
membentuk sistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Jumlah air di bumi secara
keseluruhan relatif tetap, yang berubah adalah wujud dan tempatnya.
Hujan turun ke bumi dalam takaran
yang tetap. Di antaranya ada dua poin yang dapat diperhitungkan :
- Kecepatan turunnya hujan
Air jatuh ke bumi dengan kecepatan
yang rendah karena titik hujan memilki bentuk khusus yang meningkatkan efek
gesekan atmosfir dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepatan yang lebih
rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda ataupun jka atmosfir tidak memiliki
sifat gesekan, bumi akan menghadapi kehancuran setiap turunnya hujan
- Ketinggian awan hujan
Ketinggian minimum awan hujan adalah
1200 meter. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh pada
ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kilogram yang jatuh dari
ketinggian 15 sentimeter.
Suatu benda yang berat dan ukurannya
sama dengan air hujan bila dijatuhkn dari ketinggian 1200 meter, akan mengalami
percepatan terus-menerus dan jatuh ke bumi dengan kecepatan 558 km/jam. Akan
tetapi kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam.
Dalam 1 detik kira-kira 16 juta ton
air menguap dari bumi. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi
dalam 1 detik. Dalam 1 tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505 x 1012
ton.
Faktanya air hujan berasal dari
penguapan air dan 97 % merupakan penguapan air laut yang asin. Namun air hujan
adalah tawar. Berdasarkan hukum, yang menyatakan bahwa “darimana pun asalnya
penguapan air ini, baik dari laut yang asin, dari danau yang mengandung
mineral, atau dari dalam lumpur, air yang menguap tidak pernah mengandung bahan
lain. Air hujan akan jatuh dalam keadaan murni (bersih). (menurut : Feris
Firdaus. Alam Semesta. Hlm. 115)
BAB
III
SIKLUS
HUJAN DI PANDANG DARI AL-QUR’AN (QS. AR-RUUM : 48)
Didalam QS. Ar-Ruum ayat ke-48
dijelaskan bahwa :

Artinya : “Allah, Dia-lah yang
mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya
di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal,
lalu kamu melihat air hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang
dikehendaki-Nya tiba-tiba ia menjadi gembira.” (QS Ar-Ruum : 48) (Feris
Firdaus.Alam Semesta.hlm.113)
Menurut Al-Maraghi (1974,
hlm. 113), ayat dimaksudkan bahwa “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin
itu dapat menimbulkan awan, dan menyebar serta mengumpulkannya di salah satu
arah di langit, terkadang awan itu berjalan, dan terkadang berhenti dan
terkadang bergumpal-gumpal. Maka kamu dapat melihat air hujan keluar dari
celah-celahnya. Maka, apabila hujan itu menimpa sebagian hamba-hamba-Nya, maka
mereka bersukaria, karena hujan sangat mereka perlukan di dalam kehidupan
mereka.
Menurut Feris Firdaus (alam semesta.
2004. Hlm. 113),
TAHAP KE-1: “Dialah Allah Yang
mengirimkan angin…”
Gelembung-gelembung udara yang
jumlahnya tak terhitung yang dibentuk dengan pembuihan di lautan, pecah
terus-menerus dan menyebabkan partikel-partikel air tersembur menuju langit.
Partikel-partikel ini, yang kaya akan garam, lalu diangkut oleh angin dan
bergerak ke atas di atmosfir. Partikel-partikel ini, yang disebut aerosol,
membentuk awan dengan mengumpulkan uap air di sekelilingnya, yang naik lagi
dari laut, sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang disebut “perangkap
air”.
TAHAP KE-2: “…lalu angin itu
menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang
dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal…”
Awan-awan terbentuk dari uap air
yang mengembun di sekeliling butir-butir garam atau partikel-partikel debu di
udara. Karena air hujan dalam hal ini sangat kecil (dengan diamter antara 0,01
dan 0,02 mm), awan-awan itu bergantungan di udara dan terbentang di langit.
Jadi, langit ditutupi dengan awan-awan.
TAHAP KE-3: “…lalu kamu lihat air
hujan keluar dari celah-celahnya…”
Partikel-partikel air yang
mengelilingi butir-butir garam dan partikel -partikel debu itu mengental dan
membentuk air hujan. Jadi, air hujan ini, yang menjadi lebih berat daripada
udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Semua tahap pembentukan hujan telah
diceritakan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, tahap-tahap ini dijelaskan
dengan urutan yang benar. Sebagaimana fenomena-fenomena alam lain di bumi,
lagi-lagi Al-Qur’anlah yang menyediakan penjelasan yang paling benar mengenai
fenomena ini dan juga telah mengumumkan fakta-fakta ini kepada orang-orang pada
ribuan tahun sebelum ditemukan oleh ilmu pengetahuan.
Integrasi dan interkoneksi antara
QS. Ar-Ruum : 48 dan Sains
Keterangan :
: Ranah Epistimologi
: Ranah Aksiologi
- Ranah Epistimologi

Artinya : “Allah, Dia-lah yang
mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya
di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal,
lalu kamu melihat air hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang
dikehendaki-Nya…,
Maksud dari potongan ayat tersebut
adalah “Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu dapat menimbulkan
awan, dan menyebar serta mengumpulkannya di salah satu arah di langit,
terkadang awan itu berjalan, dan terkadang berhenti dan terkadang
bergumpal-gumpal. Maka kamu dapat melihat air hujan keluar dari celah-celahnya.
- Ranah Aksiologi
Dari QS. Qr-Ruum : 48, “…tiba-tiba
ia menjadi gembira.”
Maksud dari potongan ayat tersebut
adalah apabila hujan itu menimpa sebagian hamba-hamba-Nya, maka mereka
bersukaria, karena hujan sangat mereka perlukan di dalam kehidupan mereka.
BAB
IV
PEMBAHASAN
- Ranah Epistimologi
Air mengalami proses penguapan
dengan bantuan sinar matahari lalu bergerak naik dan berkondensasi menjadi
awan.
EVAPORASI
“Dialah Allah Yang mengirimkan
angin…”Dengan bantuan angin awan bergerak dan saling bertemu, membesar lalu
menuju atmosfer dan membentuk butiran es dan air.
AWAN
BERGERAK
“…lalu angin itu menggerakkan awan
dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal…”
Karena berat, angin tidak mampu
menopang sehingga butiran es/air jatuh ke bumi.
PRESIPITASI
“…lalu kamu lihat air hujan keluar
dari celah-celahnya…”
Ranah epistimologi menggunakan
model informatif-konfirmatif/klarifikatif karena sains memberikan penjelasan
yang lebih detail mangenai siklus hujan dibandingkan penjelasan pada Al-Qur’an.
- Ranah Aksiologi
Dari sudut pandang Sains, siklus
hujan digunakan untuk menjaga kestabilan kandungan air di bumi. Walaupun pada
dasarnya kandungan air di bumi tetap. Akan tetapi, tanpa siklus hujan tidak
akan ada kehidupan.
Ranah aksiologi menggunakan metode
informatif karena Al-Qur’an memberikan informasi kepada sains bahwa hujan akan
memberikan kebahagiaan (dalam konteks hujan sebagai rahmat allah). Dengan
siklus hujan, kehidupan di bumi akan seimbang karena ketersediaan air
tercukupi.
BAB
V
PENUTUP
- KESIMPULAN
Setelah menganalisis lebih jauh
mengenai siklus hujan dari sudut pandang Sains dan Al-Qur’an dapat disimpulkan,
bahwa :
Ranah intergrasi-interkoneksi yang
penulis temukan adalah ranah epistemologi dan aksiologi dan keduanya
dengan model pendekatan informatif-konfirmatif/klarifikatif.
- SARAN
Sebagai umat muslim setidaknya dapat
menyeimbangkan dua disiplin ilmu yaitu ilmu umum dan agama. Dalam bahasan kali
ini adalah ilmu sains dan agama. Karena melalui studi intergrasi dan
interkoneksi ini akan ditemukan kesamaan ataupun melengkapi di antara keduanya.
Sehingga, kemiripan ini akan semakin membuktikan kebesaran Allah SWT.
Langganan:
Komentar (Atom)